Hanya simbol



Puisi tanpa kata
Tanpa nama
Hanya ada simbol
.
Itu sudah cukup
Seperti kau dan aku
Hanya ada simbol
.

Suara tanpa tanya
Hanya ada simbol
?

Sangat menyebalkan

Secangkir Kopi



Secangkir kopi yang selalu kau pesan dariku,
Secangkir kopi yang selalu gambarkan cinta kita,,,
Kini berlalu begitu saja,,,,
Ada apakah ?
Dalam kesegaran _mu , dalam hangatmu, itu hanya sekejap untukku >>
Meski setetes _pun,,
Hanya seteguk_pun...
Belum lagi sepenuhnya>>
Tetapi dimana ?
Tetapi kemana?
Harus kudapati kembali?
hhhh.....hanya diangan
Selalu angan, bayang yang kini ada dalam secangkir kopi
Itu bayang cintamu.......
tak terkecuali>>


.

Pergilah bersamanya...jika kau bahagia......



    Aku mengenalnya ketika akhir masa Aliyah ( MA), Ketika pertemuan pertama pada sebuah rumah tempat tinggalku juga dia. Tepatnya di sebuah ruangan yang mempertemukanku setiap harinya. Semula cintanya padaku menyebabkan semangat yang tinggi untuk belajar juga bekerja. Demikian pula cintaku padanya merupakan pendorong yang membawanya untuk tekun belajar dan berprestasi, serta membawanya kian disiplin bekerja. Begitulah, hal itu kami sadari dan kemudian kami sama - sama membuat  janji setia.Hari demi hari berlalu sampai pada akhirnya aku harus kembali pada tanah kelahiranku. Dan aku harus meninggalkannya, tapi bukan berarti aku harus meninggalkan cintanya, janjinya juga kesetiaanku padanya.
    Belum genap satu tahun setelah kami sama - sama berjanji, terjadilah suatu peristiwa yang sebelumnya tak kami duga. Pada waktu itu, aku telah berada ditanah kelahiranku. Datanglah seorang wanita yang mengutarakan niatnya. dia ingin menikah dengannya. Padahal, ia masih ditahun - tahun pertama kuliah. Sedangkan wanita tersebut, sebentar lagi wisuda. Sehubungan wanita tersebut telah mendapat restu dari orangtua lelaki, dia semakin yakin bahwa dia akan segera menikah dengannya.
    Lelaki tersebut sadar, bahwa dia masih ada hubungan denganku. Dia meminta persetujuanku ,harus bagaimana ? Aku semakin bingung untuk menjawab. Aku ingin bersamanya hingga nanti,,, sampai dia benar - benar halal untukku. Tapi.... dengan masalah ini, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku kalah. Dia dan orangtuanya lebih berhak memilih, sementara aku tak bisa menolak.
    Pada akhirnya, dia menerima wanita tersebut dan meninggalkan aku. meninggalkan kenangan bersamaku dulu. Mungkin ini yang terbaik untukku juga untuknya. Waallahu a'lam...Aku hanya berdo'a untuk kebahagiaannya.
Copyright 2009 catatan hati. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy